Senin, 06 April 2009

persahabatan.

Saya cukup bingung dengan orang-orang disekeliling saya. Setelah melihat dari banyak peristiwa sepanjang hidup, sepertinya persahabatan yang kebanyakan orang jalani hanyalah sebatas pertemanan biasa atau merupakan sebuah perkumpulan yang diadakan untuk unjuk gigi di depan khalayak ramai. Padahal sebenarnya mereka bahkan tidak mengenal diri sendiri, apalagi mengenal diri orang lain?
Yang paling sering ditemukan di dalam persahabatan dengan jumlah yang banyak itu hanyalah kemunafikan-kemunafikan yang tak pernah diketahui satu sama lain. Hey,hey,hey antara dua orang saja dalam suatu saat di masa yang panjang juga akan pernah menyimpan satu rahasia tak terbongkar disertai pertengkaran, apalagi dalam ruang lingkup sebesar itu.

Kebanyakan orang ingin dimengerti tanpa ingin mengerti diri orang lain. Dari sejak dulu sampai waktu itu dimana detikdetik saya bangkit, mengerti orang lainlah yang saya selalu jalankan. Tanpa mendahulukan kepentingan saya. Tapi apa yang saya dapatkan hanya sebuah kesakitan akan usaha yang sia-sia. Semua orang yang malah balik mencampakkan saya bertubi-tubi. Begitulah manusia, sudah berusaha dimengerti masih saja bertindak tanpa balas jasa.

Sampai detik ini saya belum pernah mempunyai dan memiliki seseorang yang saya benar-benar menganggapnya sebagai sahabat. Susah ditemukan didunia ini seorang sahabat yang benar-benar tulus mengenal satu sama lain di antara sesama disertai pengertian yang ada.

Maafkan saya teman-teman, yang sebenarnya saya alami adalah saya belum benar benar menganggap seseorang sebagai seorang sahabat. Maafkan saya karena sampai saat ini masih banyak hal yang tidak bisa saya ceritakan tentang kepenatan hidup yang saya jalani sampai saat ini. Saya pun yakin bagaimana sebenarnya kalian juga merasakan hal yang sama dengan saya.

Apapun itu, masih saya simpan di dalam memori yang ada, seperti kata sore,
"Dan kita coba kenangi semua walau telah tiada bagai etalase jendela".
Saya manfaatkan kenangan-kenangan itu ketika saya butuh dan dengan usaha yang keras kenangan itu tidak akan pernah memanfaatkan saya lagi. Disitulah saya bangkit tanpa siapapun yang membantu saya. Semua yang ada hanya saya lakukan untuk mama. Perempuan yang sangat sensitif tetapi memiliki benteng yang kuat antara kesensitifan dan ketegaran.

Yah, saya rasa memang saya tidak pernah mencintai apapun lagi setelahnya kecuali tuhan, diri sendiri dan kehidupan(semua peristiwa sukaduka yang telah saya jalani dan akan saya jalani). Kadang saya memang merasa kesepian, tidak ada seorangpun yang dijadikan tempat cerita kepenatan hidup saya. Bahkan keluarga skalipun. Tapi sayangnya saya dapat memecahkan solusi-solusi permasalahan hidup yang ada sampai detik ini. Tanpa dibantu oleh dorongan-dorongan sesama manusia.

Rata-rata kebanyakan manusia merasakan hal yang sama dengan saya, tapi keindahan hidup ini sering sekali mereka lewatkan dengan meratapi masalah sepele yang ada. Berlarut-larut hingga terkentut-kentut. Tidak jarang toh ketika depresi dan frustasi menjadi saksi atas kehidupan yang berjalan di muka bumi ini?

Tidak ada seorang manusia yang bisa saya percaya sepenuhnya sebagai sahabat, kecuali sesuatu dan sesuatu itu adalah suara hati saya yang menuntun saya menentukan jalan kehidupan yang luar biasa. Pemikiran sayalah yang mendorong saya untuk berpikir kritis penuh kepuasan terhadap hati yang menyuarakan suaranya.

Jadi anda renungi saja setulus apakah persahabatan yang anda jalani?
Seberapa banyak pengertian yang anda berikan?
Bukan dari lamanya pertemanan itu, bukan dari senyaman apakah yang kita rasakan, bukan juga dinilai dari kesenangan dan kesedihan.
Melainkan lebih cenderung kepada setulus apakah, seberapa banyak pengertiankah, dan pengorbanan yang telah diberikan.